Oleh: Ust.H.Wahyudi Madjid, S.Ag
Allah SWT berfirman :
“Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga ia merubah nasibnya sendiri”
Pada sebuah kisah, disebuah hutan belantara ada seekor induk singa yang mati setelah melahirkan anaknya, bayi singa yang lemah itu hidup sebatang kara tanpa perlindungan induknya. Beberapa waktu kemudian segerombol kambing datang melintasi tempat itu, bayi singa itu menggerak – gerakan tubuhnya yang lemah. Seekor induk kambing tergerak hatinya, ia merasa kasihan melihat anak singa yang lemah dan hidup sebatang kara itu, dan muncullah nalurinya untuk merawat dan melindungi bayi singa itu.
Sang induk kambing lalu menghampiri bayi singa itu, membelai dengan penuh kehangatan dan kasih sayang, merasakan hangatnya kasih sayang seperti itu si bayi singa tidak mau berpisah dengan sang induk kambing. Ia terus mengikuti kemana saja induk kambing pergi, jadilah ia bagian dari keluarga besar rombongan kambing.
Hari berganti hari, dan anak singa itu tumbuh dan besar dalam asuhan induk kambing dan hidup dalam komunitas kambing, ia menyusu, makan, minum, bermain bersama anak – anak kambing, bahkan anak singa yang mulai beranjak besar itupun mengeluarkan suara layaknya kambing, ia mengembik bukan mengaum. Ia merasa dirinya adalah kambing, tidak berbeda dengan kambing – kambing lainnya, ia sama sekali tidak pernah merasa bahwa dirinya adalah seekor singa. Suatu hari, terjadi kegaduhan luar biasa, seekor serigala buas masuk memburu kambing untuk dimangsa, kambing – kambing berlarian panik semua ketakutan, induk kambing yang juga ketakutan meminta anak singa itu untuk menghadapi serigala.
“Kamu singa, cepat hadapi serigala itu ! cukup keluarkan auman yang
keras dan serigala itu pasti lari ketakutan “ Kata induk kambing pada anak singa
yang sudah tampak besar dan kekar. Tapi anak singa yang sejak kecil hidup ditengah – tengah komunitas kambing itu justru ikut ketakutan dan malah berlindung di balik tubuh induk kambing, ia berteriak sekeras – kerasnya yang keluar dari mulutnya adalah suara embikan (suara kambing), sama seperti kambing yang lain bukan auman. Anak singa itu tidak bias berbuat apa – apa ketika salah satu anak kambing yang tak lain adalah saudara sesusunya diterkam dan dibawa lari serigala. Induk kambing sedih karena salah satu anaknya tewas dimakan serigala, ia menatap anak singa dengan perasaan marah. “Seharusnya kamu bisa membela kami ! seharusnya kamu bisa menyelamatkan saudaramu ! seharusnya kamu bisa mengusir serigala yang jahat itu !“. Anak singa itu hanya bisa menunduk, ia tidak faham dengan maksud perkataan perkataan induk kambing, ia sendiri merasa takut pada serigala sebagaimana kambing – kambing yang lain, anak singa itu merasa sangat sedih karena ia tidak bisa berbuat apa – apa.
Hari berikutnya serigala itu datang lagi, kembali memburu kambing – kambing untuk disantap, kali ini induk kambing tertangkap dan telah dicengkeram oleh serigala. Semua kambing tidak ada berani menolong, anak singa itu tidak kuat melihat kambing yang telah ia anggap sebagai ibunya, dicengkeram serigala, dengan nekat ia lari dan menyeruduk serigala itu, serigala kaget bukan kepalang, melihat ada seekor singa dihadapannya, ia melepaskan cengekeramannya. Serigala itu gemetar ketakutan, nyalinya habis, ia pasrah ia merasa hari itu adalah akhir hidupnya. Dengan kemarahan yang luar biasa anak singa itu berteriak keras, “Emmmbeeeek!!!!”. Lalu ia mundur kebelakang, mengambil ancang – ancang untuk menyeruduk lagi, melihat tingkah laku anak singa itu, serigala yang ganas dan licik itu langsung tahu bahwa yang ada dihadapannya adalah singa yang bermental kambing. Tak ada bedanya dengan kambing. Seketika itu juga ketakutannya hilang, ia menggeram marah dan siap memangsa kambing bertubuh singa itu atau singa bermental kambing itu!. Saat anak singa itu menerjang dengan menyerudukan kepalanya layaknya kambing, sang serigala telah siap dengan kuda –kudanya yang kuat. Dengan sedikit berkelit, serigala itu merobek wajah anak singa itu dengan cakarnya.
Anak singa itu tersungkur dan mengaduh, seperti kambing mengaduh, sementara induk kambing menyaksikan peristiwa itu dengan rasa cemas yang luas biasa. Induk kambing itu heran, kenapa singa yang kekar itu kalah dengan serigala, bukankah singa adalah raja hutan? Tanpa memberi ampun sedikitpun, serigala itu menyerang anak singa yang masih mengaduh itu, serigala itu siap menghabisi nyawa anak singa itu, disaat yang krisis itu, induk kambing tidak tega, dengan sekuat tenaga menerjang sang serigala. Sang serigala terpelanting, anak singa bangun.
Dan tepat pada saat itu, seekor singa dewasa muncul dengan auman yang dahsyat, semua kambing ketakutan dan merapat, anak singa itu juga ikut takut dan ikut mendekat. Sementara sang serigala langsung lari terbirit – birit saat singa dewasa hendak menerkam kawanan kambing itu. Namun, tiba-tiba ia terkejut karena melihat di tengah kawanan –tengah kawanan kambing itu ada seekor anak singa. Beberapa ekor anak kambing langsung lari, termasuk anak singa yang juga ikut lari. Singa dewasa itu masih bingung, ia heran kenapa anak singa itu lari mengikuti kambing? Ia mengejar anak singa itu dan berkata, “Hai kamu jangan lari ¡ kamu anak singa bukan anak kambing !“. Namun anak singa itu terus lari dan lari, sementara singa dewasa terus mengejar. Ia tidak lagi mengejar kawanan kambing, tapi malah mengejar anak singa. Akhirnya anak singa itu tertangkap. Anak singa itu ketakutan, “Jangan bunuh aku, ammmpuun !“, “Kau anak singa, bukan anak kambing, aku tidak membunuh anak singa”, kata singa dewasa. Dengan meronta – meronta anak singa itu berkata, “Tidak aku aku anak kambing! Tolong lepaskan aku !”
Anak singa itu meronta dan berteriak keras, suaranya bukan auman tapi suara embikan, persis seperti suara kambing. Sang singa dewasa heran bukan main, bagaimana mungkin ada anak singa bersuara kambing dan bermental kambing. Dengan geram atau marah ia menyeret anak singa itu ke danau. Ia harus menunjukan siapa sebenarnya anak singa itu melihat bayangan dirinya sendiri. Lalu membandingkan dengan singa dewasa. Begitu melihat bayangan dirinya, anak singa itu terkejut, “Oh, rupa dan bentukku sama dengan kamu. Sama dengan singa, si raja hutan !”. “Ya, karena kamu anak singa. Bukan anak kambing !“ Tegas singa dewasa. “Jadi aku bukan anak kambing ? aku adalah seekor singa !”, kata anak singa. Ya kamu adalah seekor singa, raja hutan yang berwibawa dan ditakuti oleh seluruh isi hutan ! Ayo aku ajari bagaimana menjadi seekor raja hutan!“ Kata sang singa dewasa. Singa dewasa lalu mengangkat kepalanya dengan penuh wibawa dan mengaum keras. Anak singa lalu menirukan dan mengaum dengan keras. Mengaum, menggetarkan sentero hutan. Tak jauh dari situ serigala ganas itu lari semakin kencang, ia ketakutan mendengar auman anak singa itu. Anak singa itu kembali berteriak dengan penuh kemenangan, “Aku adalah seekor singa ! raja hutan yang gagah perkasa !”. Singa dewasa terenyum bahagia mendengarnya.
Kita mungkin tersentak oleh kisah anak singa di atas! Jangan–jangan kondisi kita, sebagian besar orang di sekeliling kita mirip dengan anak singa di atas. Sekian lama hidup tanpa mengetahui jati diri dan potensi terbaik yang dimilkinya. Betapa banyak manusia yang menjalani hidup apa adanya, biasa–biasa saja, ala kadarnya. Hidup dalam keadaan terbelenggu oleh siapa dirinya yang sebenarnya. Hidup tanpa semangat hidup yang seharusnya. Hidup tanpa kekuatan nyawa terbaik yang dimilkinya.
Mari kita amati orang–orang yang ada disekitar kita. Diantara mereka ada yang telah menemukan jati dirinya, hidup dinamis dan berprestasi. Sangat faham untuk apa ia hidup dan bagaimana ia hidup. Hari demi hari ia lalui dengan penuh semangat dan optimis, detik demi detik yang dialuinya adalah kumpulan prestasi dan rasa bahagia. Semakin besar rintangan menghadap semakin besar pula semangatnya untuk melakukannya. Namun tidak sedikit pula yang hidup apa adanya atau bisa dibilang banyak. Mereka hidup apa adanya karena tak memiliki arah yang jelas, tidak faham untuk apa ia hidup, dan bagaimana ia harus hidup. Kita sering mendengar orang–orang yang ketika ditanya, “Bagaimana anda menjalani hidup Anda?” atau “Apa prinsip hidup anda?”, mereka menjawab dengan jawaban yang filosofis, “Saya menjalani hidup ini mengalir bagaikan air. Santai saja.”
Tapi sayangnya mereka tidak benar–benar mengetahui filosofi ’mengalir bagaikan air’. Mereka hanya memahami bahwa hidup mengalir bagaikan air yang hidup santai. Sebenarnya jawaban itu mencerminkan bahwa mereka tidak tahu bagaimana mengisi hidup dengan cara hidup yang berkualitas. Hal ini disebabkan karena mereka tidak tahu siapa mereka sebenarnya. Seperti anak singa di cerita di atas yang sebenarnya ia adalah ’seekor singa’ tapi tidak kalau dirinya ’seekor singa’. Seperti halnya si anak singa, banyak orang juga menganggap dirinya adalah ‘seekor kambing’ dan tetap menjadi ”seekor kambing” karena mereka selama ini hanya hidup dalam ‘kawanan kambing’, tidak tersadar bahwa ia dapat menjadi sesuatu yang lain
Filosofi menjalani hidup mengalir bagaikan air yang dimaknai dengan hidup santai saja, atau hidup apa adanya bisa dibilang prototipe, gaya hidup sebagian besar penduduk negeri ini. Bahkan bisa jadi itu adalah gaya hidup sebagian masyarakat dunia islam saat ini. Bila kita amati orang di sekitar kita yang dari masih kita kecil hingga kita dewasa, pekerjaan mereka tidak berubah, bahkan teman–teman yang dulu ketika di bangku sekolah dasar atau teman–teman bermain yang terlihat begitu rajin dan cerdas, yang dulu pernah bercita–cita mau jadi ini dan itu, ternyata keadaannya saat ini sangat jauh dari cita-citanya. Orang- orang yang dulu hidup memprihatinkan ternyata sampai sekarang tidak berubah.Kenapa kita tidak berubah? Jawabannya karena mereka tidak mau berubah.Kenapa mereka tidak mau berubah?. Jawabannya karena mereka tidak tahu bahwa mereka harus berubah. Bahkan kalau mereka harus tahu harus berubah, mereka tidak tahu bagaimana caranya mereka berubah. Sebab mereka terbiasa hidup pasrah, hidup tanpa rasa berdaya dalam keluh kesah. Dan cara hidup seperti itu yang terus diwarisi turun temurun.
Ada seorang sastrawan terkemuka, yang saat melihat kondisi bangsa yang sedemikian akut rasa tidak berdaya-nya sampai dia mengatakan, “Aku malu jadi orang Indonesia”. Dimana mana, kita lebih banyak menemukan orang–orang lemah, hidup apa adanya dan tidak terarah. Orang–orang yang tidak tahu potensi terbaik yang diberikan oleh AllAH kepadanya. Orang–orang yang rela ditindas oleh hawa nafsu hingga membuat dirinya hina. Padahal sebenarnya jika mau, pasti bisa hidup merdeka, jaya, berwibawa dan sejahtera.
Tak terhitung berapa jumlah masyarakat negeri ini yang bermental kambng, meskipun sebenarnya mereka adalah singa!. Banyak yang minder dengan bangsa lain, seperti mindernya singa bermental kambing pada serigala dalam kisah diatas. Padahal sebenarnya, Bangsa ini adalah bangsa besar! Ummat ini adalah ummat yang besar !. Ingatkah kita akan kejayaan nenek moyang pada zaman dahulu, seperti Kerajaan Sriwijaya yang perkasa menguasai nusantara (termasuk Malaysia dan Brunei Darussalam) dan juga Kerajaan Majapahit yang digjaya dan adi kuasa. Lebih dari itu, bangsa ini, sebenarnya dan ini tidak mungkin disangkal, adalah mayoritas ummat islam terbesar didunia dimana terdapat dua ratus juta ummat islam di negeri tercinta Indonesia ini.
Dua ratus juta ummat islam di Indonesia, maknanya adalah dua ratus juta singa, penguasa belantara dunia!. Itulah yang seharusnya. Tetapi sayang, dua ratus juta yang sebenarnya justru bermental kambing dan berperilaku layaknya kambing. Bukan layaknya singa!. Yang memprihatinkan, ada yang sudah sadar dan menyadari dirinya sesungguhnya singa tapi lebih memilih untuk tetap menjadi kambing. Karena terbiasa menjadi kambing maka ia malu menjadi singa, malu untuk maju dan berprestasi! Dan, yang lebih memprihatinkan lagi, mereka yang memilih tetap menjadi kambing itu menginginkan yang lain tetap menjadi kambing. Sebab mereka tidak mampu jadi singa dan merasa nyaman jadi kambing. Dan, yang paling menyedihkan, mereka tidak ingin orang lain jadi singa, bahkan mereka ingin orang lain jadi kambing yang lebih bodoh.
Marilah kita hayati diri kita sebagai seekor singa. Allah SWT telah memberi predikat kepada kita sebagai umat terbaik di muka bumi. Karena itu, marilah kita bermental menjadi umat terbaik. Jangan menjadi umat yang hanya bermental terbelakang. Allah Swt berfirman, “Kalian adalah sebaik–sebaik ummat yang dilahirkan untuk menjadi manusia, karena kalian menyuruh berbuat yang makruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah Swt”.
Maukah Kita Untuk Maju?
Diposting oleh
Wahdi Center 25
Label: Mutiara Kehidupan
0 komentar:
Posting Komentar